Pentingnya pendidikan aqidah bagi anak. Bandel kok di aqidah? (Sayyidina Nuaiman dan maksiatnya seorang mukmin)
Kata temanku, banyak orang lain lebih nakal dan brengsek dari kita, tapi mereka tidak pernah berani nakal di ranah aqidah, karena saat mereka nakal di aqidah mereka sadar, nakalnya akan keterusan dan akan kebingungan mencari jalan kembali kalau mau berubah, itu yang biasanya yang paling ditakuti oleh para bedebah, jauh dihati mereka, mereka tetap ingin berubah, apa daya kadang nafsu mengalahkan mereka, makanya walau mereka tau mereka salah dan brengsek, mereka akan menjaga hal yang paling berharga pada diri mereka, yaitu aqidah
Dengan aqidah itulah mereka tau yang salah itu salah dan yang benar itu benar, mereka tidak melakukan pembenaran kesalahan dan tidak menyalahkan yang benar, adapun jika aqidah bermasalah mereka akan kebingungan mana benar dan mana yang salah, ini akan membuat seorang kebingungan mencari jalan kembali, jadi dengan mempertahankan aqidah mereka tau kemana harus kembali, walau tidak sekarang tapi mereka masih berharap suatu saat bisa kembali, ya kalau lagi ditikungan kita tau la lagi ditikungan.
Dan ulama yang ikhlas lah yang dengan ilmunya bahwa allah maha pengampun yang paling mereka harapkan mau menerima mereka saat mereka ingin berubah, dimana perubahan itu adalah mimpi terbesar jauh dilubuk hati mereka, karena begitulah keadaan hati dari seorang mukmin yang ahli maksiat, masih ada iman dihati mereka.
Ini mengingatkanku pada sahabat nabi, saw, sayidina nuaiman, beliau memiliki kebiasaan mabuk-mabukan, sudah dihukum beberapa kali, tapi masih mengulangi, beliau tau itu salah dan tidak melakukan pembenaran, hanya saja nafsunya saat itu tidak bisa beliau kendalikan, dan dia selalu menyesali kesalahnnya hanya saja beliau selalu mengulangi kesalahan, lalu menyesal lagi, begitulah saat seorang beriman membuat kesalahan, selalu ada penyesalan, jadi jika kita membuat kesalahan tapi tidak menyesal, maka berhati-hatilah, segera cek keimanan, dan pastikan jangan sampai hilang. Yang merupakan sifat orang munafik, yang tidak merasa berbuat salah seusai melakukan kesalahan.
Tapi beliau bukan orang munafik, beliau mengakui kesalahannya, karena keimanannya, walau terus mengulanginya, karena belum mampu mengalahkan diri sendiri, iman ini yang menumpuk rasa sesal dihati beliau. Karena beliau terus mengulangi kesalahan, sahabat nabi yang lain sudah putus asa untuk merubahnya, nabi mengajarkan mereka satu hal yang menjadi kesuksesan seorang yang bermaksiat agar bisa berubah "sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasulNya". Itu adalah inti aqidah yang beliau pegang kuat-kuat, yang akhirnya membuatnya bisa kembali dikemudian hari. Ini yang membedakan dirinya dengan orang munafik. Bahkan saat beliau melakukan kesalahan beliau masih disifati dan digolongkan sebagai seorang yang beriman. Karena aqidah beliau benar.
Aqidah itu bukan amalan, tapi cara berfikir dan cara menjalani hidup. Dengan aqidah yang benar itu, selalu bisa membuat beliau tau mana yang benar dan mana yang salah, yang membuat beliau tau dan merasa bahwa keadaan beliau yang sekarang tidak benar, dan cepat atau lambat beliau harus berubah, entah kapan itu. Dan iman itu juga yang akhirnya membuat beliau berubah, dan bertaubat dengan sabaik-baik taubat. Taubat yang menjadi teladan bagi pemabuk manapun setelah beliau. Allah angkat derajat beliau, dengan aqidah kecintaan pada Allah dan rasulNya Sehingga dengan teladan itu, orang mukmin hari ini memuliakannya dan memanggilnya dengan sebutan sayidina(tuan kami) nuaiman.
Jadi taukan kenapa para ulama dan aulia sangat mementingkan pendidikan aqidah? Maka dari itu, pendidikan aqidah ini harus selalu menjadi prioritas dalam pendidikan anak setiap mukmin, setiap orang tua harus menanam iman dalam hati anaknya, sehingga saat akhirnya dia melakukan hal-hal yang buruk (naudzubillah) dan gak bisa dikendalikan lagi, tapi dalam hatinya masih ada iman dan membuat dia berfikir "aku saat ini lagi salah jalan, aku harus kembali, aku lagi ditikungan dan tau aku lagi ditikungan"
Begitulah sahabat nabi, bahkan pemabuk dari mereka saja masih bisa jadi contoh bagi kita, jika maksiat kita sudah menumpuk jadilah seperti nuaiman. Maka dari itu sahabat nabi itu semuanya contoh bagi kita, bahkan yang membuat kesalahan besar yang harus dihukum sekalipun, makanya dikatakan "sahabat nabi seperti bintang-bintang, yang manapun kamu ikuti akan menjadi petunjuk bagimu", bayangkan jika semua sahabat seperti Sayyidina Abu bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali, siapakah yang menjadi contoh bagi pelaku dosa besar.
Hikmah Allah pada saat menciptakan sahabat macam-macam levelnya, dan bervariasi amalannya, bahkan berbeda-beda kesalahnya, semua itu rahmat bagi kita, agar kita semua mendapatkan contoh dan teladan yang sesuai dengan maqam kita, tidak semua orang punya akhlaq seperti hasan dan Husein kan? . Bahkan ada satu sahabat yang berzina, ingin bertaubat, lalu di rajam, dan nabi menasehati sahabat yang lain bahwa jika taubat sahabat yang dirajam itu dibagi pada seluruh penduduk madinah maka masih ada lebihnya. Semoga kita bisa mendapatkan sedikit dari taubatnya sahabat nabi itu. Seandainya kita mau membaca sejarah para sahabat, pasti kita akan mendapatkan salah satu dari mereka keadaanya mirip dengan keadaan kita saat ini dan mereka itulah yang bisa kita jadikan teladan hidup karena keadaannya sama dengan kita.
Kata temanku "ketika apa yang kita impikan jauh dari harapan, adakalanya kita harus melepaskan", senyumin jangan? Senyum ajah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar